Tampilkan postingan dengan label pkb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pkb. Tampilkan semua postingan

16 Februari 2010

Fatwa Dua Kiai agar PKB Rekonsiliasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Upaya menyatukan kembali dua kubu yang berseteru di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terus dilakukan. Dua kiai pendiri Partai Kebangkitan Bangsa, Kiai Haji Mustofa Bisri dan Kiai Haji Muchid Muzadi mengeluarkan fatwa agar kedua kubu kembali berunding untuk rekonsiliasi.

Surat berisi fatwa rekonsiliasi dari dua deklarator PKB yang tersisa tersebut ditunjukkan Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB Lili Wahid, belum lama ini.

Mustofa Bisri dan Muchid Muzadi mendasarkan fatwanya tersebut pada keprihatinan para kiai atas perpecahan PKB yang tak kunjung selesai. Dikhawatirkan perpecahan tersebut akan mengakibatkan kaum nahdiyin tersingkir dari peta politik Pndonesia pada 2014.

Selain mengeluarkan surat fatwa, para kiai NU rencananya juga akan menggelar pertemuan untuk membahas lebih lanjut rencana rekonsiliasi duo PKB.

Mungkinkah rekonsiliasi terjadi di tubuh PKB, mengingat perseteruan antara kubu Gus Dur dan kubu Muhaimin Iskandar cukup dalam dan mengakar? Bagi kubu Gus Dur, Muhaimin tak ubahnya pengkhianat yang tidak sulit dimaafkan. Hal ini tergambar dari sikap Yenni Wahid, putri Gus Dur yang tidak berubah sejak PKB mulai dilanda perpecahan hingga Gus Dur menghembuskan nafas.

Dalam musim kampanye pemilu tahun lalu, Yenni menyebut Muhaimin berkhianat karena haus kekuasaan. Pernyataan hampir senada disampaikan Yenni tak lama setelah ayahandanya wafat, beberapa waktu lalu. Ia mengisyaratkan akan tetap berjalan dengan PKB versi Gus Dur. "PKB resmi dan kami PKB yang asli," katanya.(BEY)

Sumber: metrotvnews.com

Pengamat: Islah PKB Sulit Bila Formal

Metrotvnews.com, Surabaya: Pengamat Nahdlatul Ulama dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Prof. Dr. K.H. Ali Maschan Moesa MSi menilai, islah (rekonsiliasi/rujuk) Partai Kebangkitan Bangsa akan sulit diwujudkan bila menggunakan pendekatan formal. "Islah PKB itu akan sulit terwujud bila kelompok Muhaimin berangkat dari Muktamar Ancol dan kelompok Yenny Wahid berangkat dari Muktamar Semarang," katanya di Surabaya, Sabtu (23/1).

Anggota FKB DPR yang juga mantan Ketua PWNU Jatim itu mengemukakan hal itu, menanggapi peluang islah di tubuh PKB sepeninggal Ketua Dewan Syuro DPP PKB K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurut dia, pendekatan formal akan justru menutup peluang untuk islah, karena kelompok Muktamar Ancol akan merasa paling sah karena diakui Menkum HAM dan terlibat dalam Pemilu 2009.

Sebaliknya, menurut dosen Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, kelompok Muktamar Semarang juga merasa Gus Dur merupakan Ketua Dewan Syuro yang diakui pemerintah bersama Muhaimin sebagai Ketua Umum. "Kalau titik berangkatnya saja berbeda antara Muktamar Ancol dan Muktamar Semarang, maka mana mungkin bisa bertemu," kata doktor alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Penulis disertasi tentang kiai dan nasionalisme itu menyarankan, islah PKB akan terwujud bila ihtiar yang dilakukan terlepas dari pendekatan formal. "Saya kira Muhaimin dan Yenny harus bertemu untuk satu kebersamaan, yakni membesarkan PKB pada pemilu mendatang, sedangkan soal lain-lain menyangkut kekuasaan bisa dinegosiasikan," paparnya.

Oleh karena itu, Ali Machan mengatakan pertemuan untuk menggalang islah harus dilepaskan dari kepentingan Muktamar Ancol dan Semarang, sehingga lokasi pertemuan hendaknya dilakukan di tempat yang tidak formal. "Pertemuan bisa saja dilakukan di pesantren mana atau di lokasi pembentukan PKB, sehingga tidak ada pendekatan yang formal dengan harus di kantor PKB dari kelompok muktamar A atau B," ia menegaskan.

Selain itu ia menambahkan materi pertemuan jangan langsung membahas posisi dalam kepengurusan. Namun, tujuan untuk islah itu akan dibawa ke mana, apakah untuk PKB atau untuk pengurus. "Bagaimana pun, pembahasan nantinya juga menyangkut posisi Muhaimin dan Yenny beserta kelompoknya. Tapi jangan berangkat dari situ dulu, namun semuanya untuk PKB ke depan," tuturnya.(Ant/BEY)

Sumber: metrotvnews.com

Islah PKB Akan Jadi Bahasan Muktamar NU


Imam Wahyudiyanta - detikNews

Jakarta
- Desakan islah di tubuh PKB terus menguat. Adik kandung Gus Dur Lily Chadijah Wahid tak henti-hentinya mengumandangkan hal itu.

Menurut Lily, jika usulan islah diantara partai-partai yang berbasis NU tidak bisa dilakukan, ormas terbesar di Indonesia itu berencana membahas sikap politiknya dalam Muktamar NU di Makassar Maret depan. Sebab, usulan islah itu merupakan rekomendasi dalam pertemuan para kiai dan pengurus NU.

"Pertemuan ini menyepakati dan menyerahkan seluruh konflik PKB ke PBNU," ujar anggota dewan syuro, Lily Wahid kepada wartawan di Kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar, Surabaya, Rabu (10/2/2010).

Anggota FPKB DPR ini menambahkan, rekomendasi pertemuan para kiai ini akan menjadi kajian serius di Muktamar NU 22 Meret mendatang. "Di situlah keputusan akan diambil, kalau nggak mau islah, ya sudah. Habis," tambah Lily.

Jika masing-masing pihak tidak mau menurunkan tensinya untuk berkonflik, maka hubungan NU dan PKB akan menjadi renggang. Jika hal itu sampai terjadi, baik NU maupun PKB akan sama-sama
merugi.

"PKB jelas akan rugi karena tidak ada dukungan lagi dari NU mengingat PKB lahir dari NU dan barisan pendukungnya juga berasal dari NU," papar Lily.

"NU juga rugi. Susah-susah dibuat malah lepas. Kalau buat lagi, kita sudah kalah waktu," tandas Lily.

(iwd/fiq)

Sumber: www.detiknews.com

Dewan Syuro: Deklarator Ingin Kembalikan PKB ke NU

Jakarta, NU Online

Para tokoh elit Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sedang berseteru diharapkan dapat kembali merapatkan barisan untuk bersama-sama membesarkan PKB. Para elit di Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) diharapkan lebih megedepankan etika dalam berpolitik daripada sekedar berebut posisi. Demikian dinyatakan Sekretaris Dewan Syuro Dewan DPP PKB KH Muhyiddin Arubusman kepada NU Online di Jakarta, Ahad (14/2).

Menurut Muhyiddin, pihaknya telah berkonsultasi dengan para deklarator PKB yang masih hidup dan berbagai elemen NU mengenai permasalahan di DPP PKB. "Para Deklarator menginginkan, jika para elit DPP PKB saat ini tidak lagi bisa merepresentasikan etika Nahdliyin dalam berpolitik, maka sebaiknya PKB dikembalikan kepada NU saja," tutur Muhyiddin di Kantor DPP PKB Jl. Kalibata Timur Jakarta Selatan.

Lebih lanjut Muhyiddin menyatakan, para deklarator berharap konflik elite PKB tidak berlarut-larut, karena hanya membuat konstituen semakin bingung.

"Yang terpenting adalah semua pihak dapat bersatu kembali dengan perbaikan menyeluruh di tubuh PKB. termasuk agar bagaimana PKB dapat kembali diterima oleh masyarakat Nahdliyin dan bangsa Indonesia pada umumnya," tandas Muhyiddin. (min)

Sumber: www.nu.or.id

20 Desember 2009

Dewan Syuro PKB Dorong Rekonsiliasi dengan Gus Dur & NU

Dewan Syuro PKB Dorong Rekonsiliasi dengan Gus Dur & NU

detikcom - Senin, 7 Desember

Terpuruknya perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam Pemilu 2009 lalu membuat para pengurus dewan syuro partai berlambang bola dunia ini prihatin. Sebagai solusi dari persoalan tersebut, hasil pertemuan dewan syuro PKB se-Indonesia mendesak DPP PKB melakukan upaya rekonsiliasi agar posisi PKB pada Pemilu 2014 lebih baik dibanding Pemilu 2009 lalu.

Rekonsiliasi dengan seluruh stake holder PKB yang berbasis Nahdlatul Ulama (NU), di bawah naungan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur serta kekuatan NU lainnya mutlak dilakukan guna menjamin perolehan suara PKB kembali menjadi besar.

Demikian salah satu hasil kesepakatan dalam Rapat Konsultasi Nasional Dewan Syuro PKB se-Indonesia yang di gelar di Hotel Bintang, Jakarta, Minggu(6/12/2009).

"Memandang perlu dilakukan rekonsiliasi (islah) secara menyeluruh dengan berbagai komponen dan stake holder PKB dalam rangka mengembalikan kebesaran partai sebagaimana yang pernah diraih pada saat awal pendiriannya. Misalnya melakukan islah dengan komponen NU di bawah naungan Gus Dur," demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Syuro PKB KH Abdul Aziz Manshur.

Keputusan politik lainnya dari pertemuan ini adalah pengoptimalan kedudukan, tugas dan kewenangan Dewan Syuro PKB di seluruh tingkatan.

Pelibatan Dewan Syuro dalam menandatangani Peraturan Partai (PP), Surat Peringatan, Surat Keputusan struktur kepengurusan, Surat Keputusan Calon Pilkada dan berbagai keputusan penting lainnya sesuai dalam pasal 17 ayat 2 AD-PKB dan pasal 21 ayat 1, 10, 11 ART-PKB.

Selain itu, keputusan Rakornas Dewan Syuro PKB juga mengharapkan langkah-langkah terobosan untuk melakukan perbaikan serta penataan ulang struktur kepengurusan partai di berbagai tingkatan, supaya PKB mempunyai kesiapan yang optimal dalam rangka menghadapi 2014.

Aziz menambahkan rekonsiliasi yang ingin dilakukan oleh PKB adalah mengimbau dan mengajak kembali orang-orang PKB yang sudah menyeberang ke partai lain.

"Rekonsiliasi bukan dalam perubahan kepengurusan, hanya mereka yang bersemarak dimana-mana, kita ajak kembali. Rekonsiliasi penting untuk PKB menuju 2014," ujar Aziz.

Sementara itu, soal pengembalian khittoh Dewan Syuro PKB, Aziz menyebutkan, selama ini peran dan fungsi Dewan Syuro merasa terabaikan oleh Dewan Tanfidz.

"Yang diinginkan oleh Dewan Syuro DPW PKB adalah mengembalikan fungsi dan peran Syuro supaya Syuro sebagai perancang, perencana masalah di PKB. Untuk pelaksanaan segala-galanya, Dewan Tanfidz itu juga musyawarah dengan Dewan Syuro sehingga Syuro tahu," katanya.

Selain kedua hal di atas, pertemuan ini juga merekomendasikan adanya perbaikan dan konsolidasi yang di lakukan sejak dari struktur terkecil partai yaitu pengurus ranting sampai ke pengurus pusat. Caranya dengan melakukan reorganisasi kepengurusan mulai dari musyawarah ranting sampai muktamar.

01 Februari 2009

Manajemen konflik dalam partai

Kalau kita mau jujur, tak ada kehidupan kelompok yang tak mengalami konflik di dalamnya, bahkan dalam kelompok yang terkecil sekalipun, seperti sebuah keluarga. Saya masih selalu ingat nasihat orang-orang tua saat saya hendak menikah dulu, bahwa membina sebuah keluarga, apalagi saat-saat awal, minimal 5 tahun pertama adalah periode yang sangat sulit. Saat-saat itu adalah saat-saat dua pribadi, dua ego, dari dua latar yang berbeda, berusaha untuk dipadu dalam satu rumah. Tentu akan muncul gejolak-gejolak konflik. Sebagian orang-orang tua bahkan menceritakan bahwa saat-saat berat seperti itu juga kadang berulang pada periode tertentu, setiap 7 tahun atau 10 tahun. Dan setelah saya menikah, nasihat orang-orang tua tersebut memang benar-benar nyata.

Kalau dalam kehidupan kelompok yang terkecil sekalipun konflik itu bisa muncul, terutama dalam periode awal pertaliannya, tidaklah aneh bahwa dalam kehidupan kelompok yang lebih besar, seperti partai politik, konflik tersebut akan muncul juga. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidaklah imun dari hal yang amat natural tersebut. Apalagi PKB masih relatif baru, umurnya bahkan belum sampai 10 tahun. Partai yang seumur misalnya PAN juga mengalami hal serupa (PAN vs. Matahari Bangsa). Bahkan, partai yang usianya relatif lebih lama saja, seperti misalnya PDI-P dan PPP, juga mengalami hal itu (PDI-P vs. PDP, PPP vs. PBR).

Sebenarnya memang bukan konfliknya yang substansial dalam kehidupan berkelompok, karena konflik itu natural. Namun manajemen konflik itulah yang penting untuk dicarikan metode yang tepat, terutama manajemen konflik dalam partai politik. Dalam tradisi demokrasi yang lebih mapan, konflik internal dalam satu partai itu disalurkan misalnya lewat mengakui dan menerima adanya faksi-faksi politik, dan lewat tradisi 'challenge' untuk memilih pimpinan baru.

Tradisi faksi dalam partai politik


Sejak awal sebuah partai politik perlu sadar bahwa di dalam tubuhnya akan ada atau akan muncul aliran-aliran, kelompok-kelompok 'interest', atau apa pun yang lebih kecil. Meski secara umum semua aliran atau kelompok tersebut masih memiliki sebuah latar belakang atau tujuan besar yang mirip, dan oleh karenanya berkelompok dalam sebuah partai. Akan tetapi pengelompokan ke dalam grup yang lebih kecil tersebut tidak boleh diingkari. Dengan menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat atau akan terdapat aliran dan kelompok-kelompok yang berbeda, partai politik tersebut perlu mengakui eksistensi dari 'faksi-faksi'. Faksi inilah yang merupakan bentuk pengelompokan dalam sebuah partai politik.

Faksi-faksi dalam sebuah partai politik sesungguhnya memang diperlukan. Kenapa? Karena dengan adanya faksi-faksi itulah sebuah partai politik akan selalu dinamis. Persinggungan di antara faksi-faksi ini akan menggerakkan sebuah partai dari kejumudan. Selain itu, dinamika ini sekaligus akan menjadi kontrol internal dari partai tersebut. Memang persinggungan itu akan menjadi faktor destruktif apabila tidak dapat dikelola. Namun mengingkari adanya faksi justru akan menjadi awal dari konflik internal yang berkepanjangan.

Tradisi 'challenge' untuk menyelesaikan perbedaan antar faksi

Dengan mengakui dan menerima adanya faksi-faksi politik dalam sebuah partai, maka selanjutnya perlu mekanisme bagaimana kepentingan faksi-faksi ini bisa diartikulasikan. Dalam tradisi yang lebih berkembang, perbedaan tersebut diakomodasi lewat tradisi seperti tradisi 'challenge'. Tradisi ini bebentuk upaya perebutan pimpinan partai lewat pemilihan ulang pimpinan partai di antara internal 'pimpinan partai' (party room). Siapa saja yang masuk dalam daftar party room dapat ditentukan oleh masing-masing partai, namun intinya jumlahnya tidak terlalu besar (sekitar seratusan). Dan yang paling penting dimasukkan di dalam party room ini adalah para pengurus partai dan anggota-anggota legislatif yang berasal dari partai tersebut pada tingkatannya (nasional atau lokal). Karena pada umumnya, perbedaan kepentingan itu muncul di antara mereka terlebih dahulu sebelum merambah lebih luas.

Memang, dalam tradisi kepartaian di Indonesia, hal terakhir ini biasa dilakukan lewat Muktamar Luar Biasa (MLB), Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) atau apapun namanya. Namun proses tersebut selama ini sangat mahal karena melibatkan sangat banyak orang. Sampai-sampai ribuan orang ikut serta, dan bahkan membuat seperti sebuah pasar malam. Ia menguras tenaga, fikiran dan uang. Lebih dari itu, MLB atau Munaslub ini justru sering tidak melibatkan faksi-faksi yang berseberangan. Anggota-anggota legislatif dari partai tersebut sering justru tidak bisa ikut bersuara. Karena misalnya, setelah menjadi anggota DPR-RI dia bukan lagi pengurus harian partai baik di pusat maupun di daerah, sehingga tidak punya hak suara. Padahal dari antara merekalah banyak perbedaan kepentingan itu muncul.

Dengan kondisi seperti ini, MLB dan Munaslub pada akhirnya lebih mengecilkan arti aliran atau pengelompokan yang saling berbeda, bukan untuk menyadari dan menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Sehingga, yang terjadi, setelah MLB, aliran atau kelompok yang tidak puas keluar dari partai dan tidak jarang membangun sebuah partai baru. Di sisi lain partai utama kemudian didominasi oleh kelompok para pemenang.

Perlu kesadaran demokrasi baru

Padahal bagaimanapun solidnya, perlu sekali lagi disadari bahwa pengelompokan merupakan sesuatu yang natural. Dan pada masanya akan muncul lagi baik di partai baru maupun di partai utama pengelompokan baru lagi yang akan berbeda kepentingan pula. Sebagai misal saja, di PBR yang tadinya menjadi rival PPP, kemudian muncul pula konflik antara Zaenuddin MZ vs. Zaenal Ma'arif lalu Zaenal Ma'arif vs. Bursah Zarnubi. Kalau kita tetap mengikuti cara yang selama ini terjadi, maka akan muncul terus banyak partai, dan partai yang makin lama makin kecil. Satu hal yang kurang sehat untuk kehidupan demokrasi dan bernegara.

Sebaliknya, kalau kita mulai sadar dan mau menerima kenyataan bahwa faksi-faksi politik merupakan keharusan dalam berkelompok, jalan akomodasi bisa ditempuh. Seperti juga dalam sebuah pernikahan, perlu adanya pengorbanan dari ego masing-masing dan menghormati pihak lain maka kalau metode manajemen konflik seperti ini bisa diterima, kehidupan berpartai akan bisa lebih langgeng. Kalau kepentingan beberapa aliran bisa diakomodasi maka setidaknya pihak-pihak yang berkonflik bisa sedikit tenang. Kalau pun nantinya harus melakukan 'challenge' pun, semua pihak baik yang akan menang atau pun yang akan kalah tetap siap, karena ada keyakinan bahwa berbagai pihak ini masih akan diakomodasi kepentingannya.

Partai Kebangkitan Bangsa memang telah mengalami banyak konfik internal. Dan sudah saatnya mencari metode manajeman konflik yang tepat agar tidak lagi konflik menjadi musibah, namun menjadi dinamika yang memacu partai ke depan dan menjadi kontrol awal yang baik dari dalam. Semoga dalam Simposium Nasional dan Mukernas tanggal 11 November yang lalu, upaya-upaya perbaikan partai di antaranya dengan mencari metode penyelesaian konflik yang cantik menjadi bahan bahasan yang membangun untuk PKB ke depan.

Calon Anggota Legislatif DPR-RI
(Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia)
Daerah Pemilihan Jawa Tengah II
(Demak, Kudus dan Jepara)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB 13)
Nomor Urut 3

04 Desember 2008

Beberapa Pengalaman Saya di Politik Formal


Pengurus Partai PKB
  • Departemen Hubungan Luar Negeri PKB [1998-2001]
Calon Legislatif PKB
  • Calon legislatif DPR-RI Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah Pemilu 1999 [Nomor urut 2]
  • Calon legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah I (Semarang, Kendal dan Salatiga) Pemilu 2004 [Nomor urut 3]
  • Calon legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah II (Demak, Kudus dan Jepara) Pemilu 2009 [Nomor urut 3]
Anggota DPR-RI
  • Anggota DPR-RI Nomor A-418 (Pergantian Antar Waktu Periode 1999-2004) dari Fraksi Kebangkitan Bangsa

03 Desember 2008

Pakta Integritas: 495 Caleg PKB dibaiat Anti Korupsi

Minggu, 07 September 2008


JAKARTA—Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan komitmennya untuk mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. Hari ini (Minggu, 7 September 2008) di Hotel Atlet Century Park Senayan Jakarta, 495 calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari PKB dibaiat khusus untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi jika terpilih sebagai wakil rakyat.

Baiat anti korupsi itu akan dilakukan Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Aziz Mansyur kepada 10 orang perwakilan caleg dari berbagai unsur. Antara lain,Prof. Cecep Syarifudin (ulama), Idy Muzayad (unsur Aktivis), Azwar Anas(Unsur FKB), Sandi Nayoan (unsur Artis), Anas Thahir (PBNU), Nursyahbani Katjasungkana (unsur perempuan), Lili Khadijah Wahid (unsur DPP), Mansyur Ahmad (unsur professional),I Wayan Heryawan (Unsur Kebangsaan) dan Ihsan Abdullah (unsur Pengacara). Setelah dibaiat, para caleg juga diminta untuk menandatangani pakta integritas untuk menegakkan hukum.

Direktur Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB Abdul Kadir Karding menyatakan, baiat anti korupsi ini sengaja dilakukan sebagai bentuk penegasan atas komitmen PKB mendukung pemberatasan korupsi. ”Kita menyadari, problem utama bangsa kita salah satunya adalah korupsi. Karena itu pemberantasan korupsi harus didukung oleh semua pihak, termasuk calon wakil rakyat dari PKB,” tegas Karding.

Karding menyebutkan, semua caleg PKB harus sanggung untuk tidak melakukan korupsi sepanjang hidupnya, terutama selama berada di gedung parlemen. Jika tidak, sanksi tegas sudah disiapkan partai. ”Sanksi paling ringan, dipecat,” kata dia.

Anggota Komisi III DPR RI Nursyahbani Katjasungkana menambahkan, baiat dan pakta integritas untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi menjadi prasyarat utama bagi calon anggota dewan. Langkah tersebut menurut dia untuk mengingatkan semua wakil rakyat untuk tidak pada komitmen awalnya. ”Mereka harus ingat telah dibaiat. Ini menjadi penanda agar anggota DPR dari PKB tidak tergoda untuk melakukan korupsi,” imbuhnya.

Nursyahbani mengatakan, DPR selama ini banyak dituding sebagai salah satu institusi terkorup di Indonesia. Karena itu, perbaikan internal juga perlu dilakukan oleh anggota dewan yang telah mendapat kepercayaan rakyat. ”Baiat ini adalah salah satu upaya PKB untuk memperteguh kesalehan sosial calegnya,” pungkas dia. (*)

03 November 2008

Anti Corruption Pact [ CALEG PKB TEKEN PAKTA ANTIKORUPSI ]



Sumber: Metro.TV

Minggu, 07 September 2008 16:04 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Partai Kebangkitan Bangsa menggelar acara penandatanganan pakta integritas antikorupsi di Hotel Century Atlet, Senayan, Jakarta, Ahad (7/9). Acara ini diikuti hampir 500 calon anggota legislatif dari PKB yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Syuro DPP PKB, Kiai Haji Aziz Mansyur. Hadir pula Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar dan Sekretaris Jenderal PKB Lukman Edy.

Pakta integritas berisi pernyataan caleg PKB yang siap mundur ataupun diberhentikan jika terbukti melanggar undang-undang, termasuk korupsi maupun tindak pidana lainnya. Mereka juga harus siap diberhentikan jika terbukti melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai selama proses penyelenggaraan Pemilu 2009.(BEY)

Consolidating PKB [ Rujuk PKB antara Partai dan Fraksi]



Sumber: Metro.TV Senin, 11 Agustus 2008 16:08 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta:
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengadakan rujuk atau islah dengan anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa. Islah dilakukan untuk persiapan pemilu 2009. Pertemuan membahas penetapan syarat calon legislatif (caleg) yang akan disahkan 15 Agustus mendatang.

Dalam acara syukuran di Fraksi PKB DPR, Senin (11/8), tersebut juga hadir dua kubu PKB. Muhaimin Iskandar menyatakan, pertemuan tersebut merupakan pertemuan rutin. Pertemuan juga akan dilanjutkan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan diakhiri ke seluruh pesantren di Jakarta pada akhir pekan ini dalam rangka road to win 2009.

Muhaimin mengimbau agar pihak-pihak yang ingin mengganggu langkah PKB bersatu untuk mengurungkan niatnya. Sebab, jika mereka tetap melangkah, Muhaimin mengancam tidak akan memberi tempat pada mereka di partai. Islah ini merupakan kemajuan. Sebab, islah dengan kubu Abdurrahman "Gus Dur" Wahid gagal.(DOR)

24 Oktober 2008

Baiat Anti Korupsi Caleg PKB




Sumber: Liputan6 SCTV

07/09/2008 16:57 - PKB
Biar Tak Korupsi, Caleg PKB Dibaiat

Liputan6.com, Jakarta: Jelang pemilihan umum 2009, banyak cara dilakukan partai politik demi meraih simpati masyarakat. Seperti yang dilakukan Partai Kebangkitan Bangsa di Hotel Atlet Century, Jakarta Selatan, Ahad (7/9) siang, yang membaiat atau sumpah calon legislatifnya.

Sumpah atau baiat itu dibacakan tujuh orang perwakilan caleg dari PKB. Salah satu isi tak melakukan tindak pidana korupsi jika terpilih menjadi wakil rakyat dari PKB. Baiat dilakukan Ketua Dewan Syura Aziz Mansyur dan disaksikan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Dalam acara baiat ini tak tampak perwakilan PKB dari kubu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Walau orang yang dibaiat belum tentu akan menjadi wakil rakyat, PKB berharap sumpah antikorupsi dapat memperbaiki citra DPR yang terpuruk akibat banyak anggotanya terlibat kasus korupsi.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

23 Oktober 2008

National Awakening Party [ Partai Kebangkitan Bangsa ]

SEJARAH PENDIRIAN PARTAI

Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser keprabon sebagai akibat desakan arus reformasi yang kuat, mulai yang mengalir dari diskusi terbatas, unjuk rasa, unjuk keprihatinan, sampai istighosah dan lain sebagainya. Peristiwa ini menandai lahirnya era baru di Indonesia, yang kemudian disebut era reformasi. Sehari setelah peristiwa bersejarah itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU sangat beragam, ada yang hanya mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, ada yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang diusulkan. Nama terbanyak yang diusulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

Ada juga yang mengusulkan lambang parpol. Unsur-unsur yang terbanyak diusulkan untuk lambang parpol adalah gambar bumi, bintang sembilan dan warna hijau. Ada yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama untuk menjadi pengurus parpol, ada juga yang mengusulkan semuanya. Di antara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang yang diketuai KH M Cholil Bisri dan PWNU Jawa Barat. Dalam menyikapi usulan yang masuk dari masyarakat Nahdliyin, PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini didasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil Muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis. Namun demikian, sikap yang ditunjukan PBNU belum memuaskan keinginan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU dengan tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Diantara yang sudah mendeklarasikan sebuar parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon.

Akhirnya, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 3 Juni 1998 yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU. Tim Lima diketuai oleh KH Ma'ruf Amin (Rais Suriyah/Koordinator Harian PBNU), dengan anggota, KH M Dawam Anwar (Katib Aam PBNU), Dr KH Said Aqil Siradj, M.A. (Wakil Katib Aam PBNU), HM Rozy Munir,S.E., M.Sc. (Ketua PBNU), dan Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi hambatan organisatoris, Tim Lima itu dibekali Surat Keputusan PBNU.

Selanjutnya, untuk memperkuat posisi dan kemampuan kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan partai politik, maka pada Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU tanggal 20 Juni 1998 memberi Surat Tugas kepada Tim Lima, selain itu juga dibentuk Tim Asistensi yang diketuai oleh Arifin Djunaedi (Wakil Sekjen PBNU) dengan anggota H Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachri Thaha Ma'ruf, Lc., Drs. H Abdul Aziz, M.A., Drs. H Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam mengiventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk parpol baru, dan membantu warga NU dalam melahirkan parpol baru yang dapat mewadahi aspirasi poitik warga NU.

Pada tanggal 22 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasikan tugas-tugasnya. Tanggal 26 - 28 Juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemuan ini menghasilkan lima rancangan:

Pokok-pokok Pikiran NU Mengenai Reformasi Politik, Mabda' Siyasiy, Hubungan Partai Politik dengan NU, AD/ART dan Naskah Deklarasi.

Disadur dari : Website Resmi PKB

09 Oktober 2008

PKB Lebih Selektif Jaring Caleg



Sumber: Liputan6.com

Cirebon: Partai Kebangkitan Bangsa kubu Muhaimin Iskandar terus melakukan konsolidasi internal. Ketua Umum PKB, Muhaimin, Ahad (3/8), mengunjungi ulama se-Jawa Barat di Pesantren Babakan, Caringin, Cirebon, Jabar.

Di hadapan para ulama, Cak Imin menjelaskan persoalan ditubuh PKB sudah selesai dan hampir seratus persen komponen telah kembali padanya. Hanya tinggal wilayah Kalimantan Selatan. Untuk urusan calon legislatif Pemilu 2009, Cak Imin berjanji lebih berhati hati dan akan melakukan uji kelayakan dan kepatutan pada calegnya.

Setelah Mahkamah Agung memenangkan atas sengketa dengan PKB kubu Gus Dur, Muhaimin terus melakukan pembenahan di tubuh partainya dengan memecat beberapa orang yang dituduhnya sebagai anasir jahat. Dia juga ingin lebih mengedepankan peran Nahdlatul Ulama sebagai pendukung utama PKB. Karena itu Muhaimin terus mendekati ulama-ulama NU berpengaruh untuk mendongkrak perolehan suara pada 2009.(IAN/Rahmat Supana)

PKB consolidated [ Islah PKB ]




Gus Dur Setuju Islah


Sumber: Liputan6.com 26/07/2008 18:03

Jakarta: Perseteruan internal di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa menunjukkan tanda penyelesaian. Ketua Dewan Syura PKB Abdurrahman Wahid akhirnya menerima keputusan Mahkamah Agung yang menyatakan PKB Muhaimin Iskandar sah secara hukum.

Keputusan tersebut diambil setelah Sabtu (26/7) siang sebanyak tujuh mandataris Dewan Pimpinan Wilayah PKB se-Indonesia menemui Gus Dur di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta. Mewakili seluruh pengurus PKB di wilayah, mereka meminta Gus Dur bersedia melakukan harmonisasi demi kelangsungan hidup partai. Meskipun menolak disebut sebagai islah, keputusan harmonisasi akhirnya diterima Gus Dur [baca: Kasasi Ditolak, Pendukung Muhaimin Sujud Syukur].

Sedangkan dari kubu Muhaimin sendiri, sejak dimenangkan oleh MA, mereka sudah bersedia islah dengan sejumlah catatan. Islah sebetulnya sudah terjadi di kalangan akar rumput. Ini dibuktikan dari sekitar 600 daftar nama calon anggota legislatif yang dikantungi kubu Muhaimin, 20 persennya berasal dari kubu Gus Dur yang menyeberang.(ADO/Dwi Anggia dan Yon Helfi)

08 Oktober 2008

Optimistis dan Kerja Keras: PKB Juara 3

Dalam survei-survei yang diadakan sejak setahun lampau Partai Kebangkitan Bangsa masih menduduki peringkat ke empat. Bahkan dalam situasi internal konflik Indo Barometer masih mejaring adanya sekitar 7,4% pemilih PKB. Sedang suara mengambang (swinging voters) mencapai sekitar 30%. Oleh karenanya Cak Imin (Muhaimin Iskandar) optimis bahwa dengan usaha serius PKB masih bisa menempatkan dirinya dalam kelompok tiga besar.

Berikut adalah laporan survei Indo Barometer terakhir (9 Juli 2008).

Pilihan Partai Politik Jika Pemilu Diadakan pada Rabu 9 Juli 2008

Sumber: Indo Barometer

Seandainya Pemilu Legislatif dilakukan hari ini, partai politik apa yang akan B/I/S pilih untuk tingkat DPR Pusat?

DINAMIKA PILIHAN PARTAI POLITIK MEI ’07, DES ’07, DAN JUN ’08 (%)


Jika pemilu 2009 dilaksanakan pada hari ini, maka pemenang pemilu adalah PDIP (23,8%). Disusul Golkar (12,0%), Demokrat (9,6%), PKB (7,4%) bersama PKS (7,4%), PAN (3,5%), Hanura (2,3%), dan PPP (1,6%).

Dibanding data 2007, PDIP sedikit menurun. Golkar dan PD mengalami penurunan. Juga PPP. Partai yang naik PKS. Partai baru yang potensial menyodok, sementara baru Hanura. Partai yang sudah memenuhi syarat parliamentary threshold 2,5% (untuk mendapat kursi di DPR pusat) baru 6: PDIP, Golkar, Demokrat, PKB, PKS, dan PAN.

Peluang bagi partai baru untuk mendulang suara masih terbuka karena dua alasan: (1) Masih ada 29,4% pemilih yang masih mengambang; (2) Hanya sekitar 24 persen pemilih saat ini merupakan pemilih loyal (merasa dekat dengan partai tertentu). Sisanya (76%) bisa lari ke mana saja karena tidak memiliki ikatan emosional yang kuat pada partai tertentu yang nota bene adalah partai-partai lama.